Theurbanmama

Yuk, Cerdas Salurkan Emosi agar Mama Tetap Waras

Selasa, 17 Oktober 2017

Pernah enggak sih, Urban Mama merasa sangat stres, sedih, dan penuh emosi karena tekanan lingkungan? Kebetulan, kondisi itu melanda saya bulan lalu.

Saya tipikal ibu yang selalu berusaha tenang ketika anak sakit. Selama saya tahu gejala-gejala penyakit pada anak mengarah pada infeksi virus ringan, observasi terhadap anak akan jadi keputusan saya dan suami. 

Saya juga selalu berusaha legowo ketika anak rewel karena penyakitnya. Kalau sudah begitu, saya sebisa mungkin menangani buah hati dengan ekstra sabar dan banyak-banyak menenggak vitamin saja agar bisa tetap fit. "Badai pasti berlalu. Saya harus tetap waras agar bisa melalui ujian ketika anak sakit yang pasti datang dan pergi," begitu prinsip saya. 

Namun ambang batas kesabaran saya sempat kebobolan. Padahal, saya pernah menghadapi kerewelan anak yang lebih parah daripada saat itu. Alasannya, ibu kandung dan mertua menekan saya maupun suami untuk membawa si sulung ke dokter. Sementara, waktu itu belum genap tiga hari si kakak demam, jadi menurut saya, dokter pun masih akan kesulitan menegakkan diagnosis. Saya pribadi juga yakin, anak saya hanya sakit common cold atau influenza karena gejalanya demam, batuk, dan pilek saja. Meski begitu, berkali-kali mereka memohon agar anak saya dibawa ke dokter. Bahkan, saya sampai dibilang ibu yang tega karena lebih memilih untuk observasi anak dulu. Sampai akhirnya, saya harus cari dokter yang buka konsultasi di hari Minggu demi "memuaskan" kecemasan nenek dan eyang si sulung. 

Suatu ketika, saya merasa sangat marah dan frustrasi dengan keadaan yang saya hadapi. Ditekan sana-sini, letih, dan harus menghadapi tangisan anak setiap saat. Bila biasanya saya bersabar menghadapi kerewelan anak saat sakit, kali itu emosi saya memuncak. Otak saya berkali-kali mengingatkan diri ini jangan sampai luapan emosi dapat menyakiti diri sendiri apalagi buah hati. Saya hanya bisa menangis, sementara saat itu suami sedang tidak bisa menjadi tempat bercerita. Bagi saya saat itu, menangis saja tak cukup dan saya butuh menyalurkan emosi. 

Keesokan harinya, kondisi psikis saya ternyata belum membaik. Saya juga merasa marah kepada suami karena ia tidak berusaha menanyakan kondisi saya. Saat itu, saya ingin emosi saya ditangani secara profesional. Akhirnya, saya pun memutuskan menemui psikolog dewasa. 

Saat konsultasi dengan Psikolog Felicia Ilona Nainggolan di Personal Growth Jakarta Barat, saya meluapkan semua emosi yang melanda diri beberapa hari belakangan. Saya ceritakan semua kekesalan, kesedihan, dan kegelisahan saya ketika anak sakit sementara ditekan orangtua dan mertua.  

Bersama Psikolog Felicia, kami pun mengurai solusi agar kondisi psikologis saya bisa normal kembali. Hasilnya sebagai berikut:

1. Memperbaiki hubungan dengan anak yang berlandaskan kasih sayang. Menurut Psikolog Felicia, selama ini perlakuan saya terhadap anak mungkin dibayang-bayangi kekhawatiran akan pendapat orang lain tentang cara saya mengasuh buah hati. Ini tak lepas dengan kondisi saya saat ini yang masih tinggal bersama mertua. Ia meminta saya untuk mengasuh anak murni karena cinta. Jika tidak, anak akan tahu ketika kita justru bersikap sebaliknya. Ini cukup terbukti karena malam saat emosi saya memuncak, si kakak rewel luar biasa. 

2. Salurkan emosi, jangan dipendam. Masih menurut psikolog, ketika seorang ibu merasa sedih atau marah, salurkanlah energi tersebut agar terhindar dari luapan emosi yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hal-hal yang bisa Urban Mama lakukan ketika dilanda emosi:


Dulu saya sempat menganggap perilaku mamanya Nene-chan di film Sinchan ini aneh, tapi ternyata dapat juga dibenarkan ketika luapan emosi sudah tidak bisa tertahan lagi, sementara kita harus menyembunyikannya secara profesional.

Pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini:

Kalau Urban Mama, punya tips apa saja untuk menyalurkan emosi negatif? Berbagi yuk, di kolom komentar. 

 

Febi Purnamasari A new mother of two who loves sharing whatever she has learned from seminars and books especially related to parenting issues. She’s now developing her career path as journalist for a national television. Belly-dancing is her hidden obsession.
Related Tags : ,,
Apa Reaksi Anda ?
8 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.